Dukung SayaDukung Pakde Noto di Trakteer

[Latest News][6]

abu nawas
abunawas
berbayar
Budaya
cerbung
cerkak
cerpen
digenjot
gay
hombreng
horor
hot
humor
informasi
LGBT
mesum
misteri
Novel
panas
puasa
sejarah
Terlarang
thriller

Labels

TEKA-TEKI KEMATIAN JURAGAN SASTRO

 

Banyak yang heran ketika Juragan Sastro mati. Ia ditemukan terkapar di gudang tembakau miliknya, lehernya terjerat tali, kaki masih menapak tumpukan tembakau.

Kok bisa orang nomor satu sekaligus juragan tembakau paling kondang di Desa Gedongrejo mati di gudangnya sendiri?

 

****

 


Singkat cerita ... pagi belum berlalu, tetapi beberapa warga, buruh, para abdi berkumpul di depan gudang.

Ndoro Ratri, istri Juragan Sastro terlihat terus menangis terisak-isak.

“Dobrak pintunya!”

Wening anak Juragan Sastro hanya terdiam saat satu lelaki bersiap-siap mendobrak pintu gudang tembakau itu.

Pintu gudang seketika didobrak sebab terkunci dari luar.

Brak!

Setelah pintu berhasil dibuka paksa, kontan saja orang-orang yang berkumpul hanya membicarakan satu nama, yaitu Pakde Karyo.

Siapa Pakde Karyo? Dia adalah juru timbang tembakau yang bekerja pada Juragan Sastro.

Warga yang sering menjual tembakau kepada Juragan Sastro tahu betul siapa Pakde Karyo, juru timbang yang mahir tali menali saat menimbang tembakau atau menali karung. Tak heran saat ditemukan tali di leher Juragan Sastro, semua mencurigai Pakde Karyo.

Kenapa semua orang menuduh Pakde Karyo pelakunya?

Semua orang juga tahu kejadian sebelum Juragan Sastro meninggal, Pakde Karyo baru saja dipukul oleh Juragan Sastro di depan buruh dan warga karena salah menimbang.

“Dasar goblok!”

Plak!

“Kalau kamu salah menimbang, bisa rugi aku, Goblok!”

Makin kuat dugaan kalau Pakde Karyo adalah pelaku pembunuhan Juragan Sastro adalah ... ditambah malam sebelum kematian, warga melihat mereka bertengkar hebat di beranda rumah juragan tembakau itu perkara utang Pakde Karyo.

 

****

Orang-orang masih berkumpul di depan gudang tembakau, datanglah Kades Jumakir  ... ia datang setelah mendapat laporan dari salah satu warga.

Singkat cerita, Pakde Karyo yang tertuduh pun digelandang ramai-ramai ke balai desa, bukan karena anggapan warga, tetapi ada bukti kuat kalau Pakde Karyo adalah pembunuh juragannya, yaitu kunci gudang yang ada di saku celana.

“Mau ngelak, ha! Ini apa ... ini buktinya kalau kamu yang bisa keluar masuk gudang!” Kades Jumakir menunjukkan anak kunci yang ia dapat setelah menggeledah saku celana Pakde Karyo.

“Tapi ... tapi aku bukan pembunuh!” teriak Pakde Karyo membela diri.

“Lalu kunci ini ….”

“Aku sendiri tak tahu bagaimana bisa ada di sakuku,” balas Pakde Karyo dengan menggeleng. “Sungguh aku tak tahu kunci ini ada di sakuku.”

Mendengar itu, tak seorang pun percaya. “Siapa lagi coba yang membunuh Juragan Sastro kalau bukan orang yang pegang kunci gudang ini. Lha wong mayatnya ada di dalam kok.”

Singkatnya Pakde Karyo terus diinterogasi dan disuruh mengakui perbuatannya.

“Kalau dalam dua hari ke depan kamu tidak mau mengakui perbuatanmu, jangan salahkan aku kalau datang aparat ke rumahmu, Pakde Karyo!” ancam Kades Jumakir.

 

****

 

POV 1

Perkenalkan, aku Darmo, usia 28 tahun ... tugasku mencatat hasil panen ...  sering berdiri di samping Pakde Karyo saat menimbang tembakau.

Tali di leher juragan terikat simpul ganda, rumit, bukan simpul biasa buruh tembakau, aku tahu betul bagaimana Pakde Karyo mengikat, ia ahli dalam mengikat simpul ganda.

Saat aku ikut masuk ke gudang tadi, tercium juga bau minyak kelapa.

Aku melihat arloji kerepyak Juragan Sastro berhenti di pukul 19.25, padahal ia biasa makan malam pukul segitu.

Semua petunjuk menjerumus ke arah Pakde Karyo ... satu yang pasti, sebab ia sering memperbaiki tali, tangannya paling lihai soal simpul di depan timbangan.

 

****

 

Dua hari kemudian.

“Pakde Karyo kendat! Pakde Karyo kendat!” teriak satu warga berlari memberitahu kami yang ada di dalam gudang.

Buru-buru aku berlari menuju rumah Pakde Karyo diikuti oleh warga dan anak buah Juragan Sastro yang lain.

 

****

Saat aku sampai, Pakde Karyo kami  temukan mencoba gantung diri di rumahnya. Namun, ia selamat karena kami berusaha cepat untuk menurunkannya. Pakde Karyo berusaha mengakhiri hidupnya sebelum petugas datang dan akan menjebloskannya ke penjara.

“Dukno, Wong! Alon-alon!”

Pakde Karyo berhasil kami selamatkan. Napasnya pendek-pendek seperti orang yang akan mati. Akan tetapi, sebelum ia pingsan, Pakde Karyo sempat berbisik di telingaku, “Aku memang membenci juragan, tapi malam itu aku pulang sebelum magrib. Tolong aku, Mo.”

 

****

 

Malam itu juga.

Aku menemui Ndoro Ratri di dapur. Aku sudah biasa ... kebiasaanku keluar masuk rumah ini, sebab aku mendapat tugas mencatat hasil panen tembakau dan harus melaporkannya kepada Juragan Sastro. Jadi, aku tak merasa canggung bila harus menemui Ndoro Ratri di dapur untuk pamit pulang.

“Ndoro,” ucapku saat Ndoro Ratri tak kulihat di sana, dapur itu begitu sunyi, suasana berduka jelas menyelimuti tiap sudutnya.

“Ndoro?” ulangku.

“Ndoro!” Ucapanku terhenti saat Mbok Girah, abdi pawon muncul dengan gendul bening berisi ....

Mbok Girah tersenyum kaku. “Eh, Kowe, Mo.”

Buru-buru aku mempertanyakan apa isi botol yang ia pegang. “Nopo niku, Mbok?”

“Iki?” tanyanya menunjukkan gendul.

“Nggeh, Mbok. Nopo niku!” kejarku penasaran.

“Yo, iki lengo kelentik to, Mo,” balasnya dengan mengerutkan dahi, heran.

“Perempuan desa memang selalu menggoreng pakai ini. Piye to kowe iki, Mo.”

“Ono opo to, Mo?”

“Mo?”

“Eh, mboten, Mbok. Kulo bade pamit wangsul,” balasku lalu meninggalkan Mbok Girah di dapur.

 

****

 

Satu minggu kemudian.

Tanganku kembali bergetar saat membuka lemari pakaian. Di bawah tumpukan baju aku simpan uang pemberian Ndoro Ratri.

“Tugasmu hanya itu, Mo. Ini uang untukmu,” kata Ndoro Ratri malam itu.

Ah! Aku seperti dikejar-kejar dosa. Bahkan aku tak sanggup lagi berbohong kalau ... aku ... akulah yang menyelipkan anak kunci di saku celana Pakde Karyo saat orang-orang mulai berkumpul di depan pintu gudang tembakau.

Juragan Sastro sudah mati sebelum digantung. Racun dari cairan itu bila dicampur kopi panas bisa menghentikan jantung tanpa bekas, dan hanya satu orang yang membuat kopi untuk Juragan Sastro setiap sore ... bukan Pakde Karyo, bukan Mbok Girah, bukan aku, tetapi istrinya sendiri, yaitu Ndoro Ratri.

Ndoro Ratri membunuh Juragan Sastro di dapur.

“Bantu aku, Mo!”

Aku menyeret tubuh Juragan Sastro ke gudang, mengikat lehernya dengan tali dan menyiramkan minyak kelapa di sudut ruangan, tujuannya untuk menyamarkan bau racun yang dicampur kopi di mulut mayat Juragan Sastro.

Pakde Karyo sempurna sebagai tersangka sebab ia mahir mengikat, terlibat pertengkaran dengan Juragan Sastro, dipukul di gudang ... semua begitu sempurna ... terlebih peranku yang menyelipkan anak kunci di sakunya, membuat orang-orang jelas akan menuduhnya.

 

****

Ndoro Ratri membunuh suaminya bukan karena cemburu oleh perempuan lain, bukan pula karena uang, tetapi karena warisan dosa.

Tiga bulan sebelum kematian itu, Wening ... anak semata wayang mereka pingsan di kebun tembakau. Aku yang menolongnya mengira ia kelelahan membantu panen. Namun, Ndoro Ratri menemukan kenyataan yang jauh lebih kejam.

Ndoro Ratri menceritakan padaku kalau Wening ... Wening hamil.

Bapak dari anak yang ada di kandungan Wening … adalah Juragan Sastro sendiri.

Juragan Sastro sering menggarap Wening saat Ndoro Ratri pergi  untuk satu urusan, atau kadang Juragan Sastro menyalurkan hasrat kepada anak tirinya itu di kebun tembakau saat sepi.

Aku sudah lama bekerja untuk keluarga Juragan Sastro yang kerap gonta-ganti istri, aku juga tahu kalau Juragan Sastro menyimpan tradisi kotor ... menggauli anak tirinya. Itu kenapa istri-istri terdahulu pergi meninggalkan Juragan Sastro.

Anak perempuan buruh yang menunggak utang juga tak luput dari syahwat juragan tembakau itu. Ia akan dipanggil malam-malam ke rumah Juragan Sastro dengan dalih pencatatan ulang perkara utang orang tuanya.

Semua orang tua yang anaknya dipanggil juga tahu apa yang terjadi setelahnya, tetapi mereka tak berani bersuara dan jalan akhir ditempuh adalah menggugurkan janin anak perempuannya yang dihamili Juragan Sastro.

Tak ada yang berani melapor, siapa melawan, lahannya ditarik. Begitu berkuasanya Juragan Sastro.

Wening menjadi korban terakhir.

Ndoro Ratri menemukan botol obat penggugur kandungan di bawah kasur kapuk anaknya.

Malam itu Juragan Sastro duduk santai menunggu kopi seperti biasa. Aku bergegas pergi saat Ndoro Ratri datang dengan segelas kopi di tatakan lepek beling ... kopi yang sudah dicampur racun paling mematikan!

Akulah yang mengambil racun itu dari rumah seorang Acaraki, pesanan Ndoro Ratri.

 

****

Juragan Sastro bukan sekadar orang kaya, ia adalah pemberi utang, penentu siapa boleh menanam tembakau, pemilik gudang, orang yang bisa menarik lahan siapa pun hanya dengan satu tanda tangan.

Di Gedongrejo, nama Juragan Sastro tetap tertulis di batu nisan sebagai tokoh pelopor tembakau.

Maafkan aku yang telah berbohong, aku harap Pakde Karyo segera ditangkap dan diadili supaya posisiku dan Kades Jumakir yang juga menerima uang dari Ndoro Ratri aman.

Kalau kamu tanya di mana Ndoro Ratri dan Wening kini ... kujawab kalau mereka sudah pergi dari Gedongrejo dan menuju ke sebuah tempat yang tak mungkin aku sebut. END


PAKDE NOTO

Baca juga cerita seru lainnya di Wattpad dan Follow akun Pakde Noto @Kuswanoto3.

No comments:

Post a Comment

Start typing and press Enter to search